Oleh: bmkgkotabaru | 9 Maret 2010

PRAKIRAAN CUACA

DINAMIKA ATMOSFER-LAUT

09 Maret 2010 08.00 WITA

TEKANAN

ANALISIS DAN PROSPEK

Daerah tekanan rendah (1005 hPa) masih terjadi di Samudera Paisfik sebelah tenggara Papua dan cenderung bergerak ke arah timur.

Daerah tekanan rendah (1008 hPa) di sebelah barat daya Sumatera dan cenderung bergerak ke arah barat.

ANGIN

ANALISIS

Angin pada lapisan 3000 feet di sekitar Kotabaru bertiup dari arah timur laut dengan kecepatan 3 hingga 7 knots.

PROSPEK

Angin pada ketinggian 3000 feet cenderung bertiup dari arah barat laut dengan kecepatan 7 hingga 12 knots.

AKUMULASI PERAWANAN

ANALISIS

Kondisi awan di sekitar Kotabaru cenderung cerah dan hanya terdapat sedikit awan jenis Altostratus dan cumulus.

PROSPEK

Pada siang hari dimungkinkan awan jenis Altostratus dan Cumulus akan menutupi sebagian langit.

SUHU MUKA LAUT

ANALISIS

Suhu muka laut di sekitar perairan sekitar Kotabaru di sebelah selatan masih cenderung lebih hangat.

Oleh: bmkgkotabaru | 16 Januari 2010

ANGIN KENCANG MELANDA KOTABARU

Sore hari (13/01), langit tertutup awan hitam. Tiba-tiba angin kencang berhembus di Kotabaru dan merusak sejumlah rumah, dengan tingkat  kerusakan ringan hingga sedang. Terutama pada daerah-daerah di pinggiran laut. Sejumlah Baliho terhempas dan berserakan. Bahkan angin ini juga menumbangkan tiang listrik di depan SMPN 1 Kotabaru yang mengakibatkan aliran listrik di Kotabaru padam untuk sementara. Kejadian ini  terulang kembali pada malam hari (14/01) dengan kecepatan  angin yang lebih rendah dan tidak menimbulkan kerusakan  yang berarti, tetapi cukup membuat panik masyarakat.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi di Kotabaru?

Secara meteorologi, fenomena yang terjadi adalah downburst atau angin kencang yang menghempas secara tiba-tiba dari awan cumulonimbus dengan durasi sangat pendek dan jangkauan wilayah yang tidak luas. Di Stasiun Meteorologi Stagen Kotabaru, angin ini tercatat dengan kecepatan 25 knot (46 km/jam) dan berhembus dari barat pada tanggal 13 Januari 2010. Sedangkan  pada 14 Januari 2010 angin  berhembus dari arah yang sama dengan kecepatan 30 knot (56 km/jam). Dengan melihat dampak yang ditimbulkan, di pusat Kotabaru angin ini bisa mencapai kecepatan 35 knot (65 km/jam) atau lebih dengan arah hembus cenderung dari barat. Akumulasi perawanan saat itu menutupi seluruh langit (overcast) dan didominasi oleh awan cumulonimbus dengan keadaan cuaca hujan lebat yang disertai badai guntur.

Mengapa fenomena ini bisa terjadi?

Berdasarkan analisis unsur-unsur cuaca pada tanggal 13-14 Januari 2010, angin kencang ini diakibatkan oleh awan cumulonimbus yang mendominasi perawanan di Kotabaru. Awan cumulonimbus ini terbentuk akibat adanya pumpunan angin (konvergensi) pada lapisan bawah (sekitar 1000 m dari permukaan laut) yang terjadi di sepanjang wilayah Tanah Bumbu dan Kotabaru (Pulau Laut). Bedasarkan citra satelit IR1, IR2, NIR, WV dan VIS, awan cumulonimbus ini sudah tebentuk di wilayah Tanah Bumbu dan semakin bertambah ketika melintasi wilayah Kotabaru. Angin baratan pada lapisan bawah juga sangat mempengaruhi angin permukaan. Hal ini dibuktikan dengan arah hembus yang sama antara angin pada lapisan bawah dengan angin permukaan. Angin lapisan bawah ini berhembus dengan kecepatan mencapai 20 knot (37 km/jam) atau lebih yang berhembus dari barat. Angin dengan pola seperti ini biasa disebut angin baratan. Selain kecepatan angin lapisan bawah yang besar, kondisi topografi yang datar dari barat ke timur pada wilayah Pulau Laut bagian utara menjadi penyebab angin lapisan bawah mempengaruhi arah dan kecepatan angin permukaan. Kuatnya angin lapisan bawah ini diakibatkan oleh  adanya daerah tekanan rendah (1005 HPa) di Teluk Carpentaria sebelah utara Australia yang menarik massa udara ke arah barat. Disamping itu, kuatnya Indeks Surge yang mencapai 10,5 diindikasikan sebagai penyebab dari kuatnya dorongan massa udara ke arah barat.

Apakah hal ini merupakan fenomena yang normal terjadi di Kotabaru?

Dari series data unsur angin dari periode 1986-2005, nilai normal kecepatan angin adalah 3-7 knot (6-13 km/jam). Sifat kecepatan angin pada tanggal 13 dan 14 Januari 2010 adalah diatas normal. Pada umumnya, kecepatan angin tertinggi di Kotabaru terjadi pada bulan Oktober-Maret. Oleh karena itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stagen-Kotabaru menghimbau kepada masyarakat Kotabaru agar mewaspadai hembusan angin kencang yang biasa terjadi pada bulan Oktober-Maret .

Oleh: bmkgkotabaru | 10 November 2009

KAPAN MUSIM HUJAN DI KOTABARU??????

Hujan akhir-akhir ini membuat senang masyarakat Kotabaru. Pasalnya setelah berhari-hari tidak turun hujan di Kotabaru, tepatnya 4 hari ini turun hujan pada skala ringan (0.1-10 mm/hari) sampai sedang (10-20 mm/hari) .Timbul pertanyaan di benak masyarakat apakah musim hujan sudah mulai di Kotabaru? Ataukah sedang terjadi musim kemarau yang berkepanjangan?

Sebenarnya awal musim hujan sendiri disyaratkan dengan curah hujan yang mencapai 50 mm dalam 1 dasarian (10 hari) dengan diikuti 2 dasarian berikutnya. Awal musim hujan diprakirakan terjadi pada bulan November dasarian ke 3 atau 10 hari terakhir di bulan November. Sedangkan hujan pada 9 hari terakhir ini mencapai 26.2 mm sehingga dapat dipastikan bahwa saat ini belum memasuki awal musim hujan. Awal musim hujan tahun ini pun mundur dari nilai normalnya dimana nilai normalnya  (November dasarian pertama) dan  panjangnya musim kemarau saat ini memang lebih lama dari nilai normalnya (Agustus dasarian pertama – November dasarian pertama) yang dimulai dasarian pertama bulan Juni. Lebih lamanya  musim kemarau saat ini disebabkan oleh Elnino yang terus menguat. Elnino sendiri adalah naiknya suhu muka laut Samudera Pasifik Ekuator bagian tengah yang mengakibatkan turunnya suhu muka laut perairan Indonesia sehingga suplai uap air berkurang dan curah hujan pun  berkurang.

Oleh: bmkgkotabaru | 2 November 2009

DAMPAK BADAI TROPIS MIRINAE

Badai Mirinae yang terpantau terakhir (2/11) di pesisir timur Vietnam dengan tekanan 996 Mb dan kecepatan angin tertinggi 111 km/jam bergerak ke barat, membuat galau masyarakat yang tinggal pada daerah track/jalur badai ini. Karena langsung mengakibatkan hujan deras disertai angin kencang. Kompas.com memberitakan (1/11) sedikitnya 20 warga Manila tewas dan 20.000 warga dievakuasi.
Lain Manila lain pula Kotabaru. Dampak tidak langsung dari Badai Mirinae ini adalah tidak turunnya hujan selama 5 hari terakhir ini. Sehingga untuk daerah-daerah yang sangat mengandalkan air hujan sebagai sumber air mengalami kekeringan. Hal ini pula yang dimanfaatkan oleh sebagian warga yang tinggal pada daerah-daerah yang mempunyai sumber air yang lebih untuk berjualan air. Drum-drum besar diisi dan didistribusikan ke daerah-daerah yang kekurangan air tentu dengan harga yang masih terjangkau, tetapi kalau hal ini berlangsung beberapa kali maka menimbulkan pengeluaran baru yang tidak sedikit bagi warga yang membutuhkan air.
Semoga hal ini menjadi pelajaran bagi kita semua….

Oleh: bmkgkotabaru | 1 November 2009

ISU LOKAL DIADOPSI DALAM LAPORAN KELIMA IPCC

Nusa Dua, Bali (29/10),  Beberapa isu lokal yang diperjuangkan Delegasi Indonesia dalam  Sidang ke-31 Panel Internasional Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) disetujui masuk dalam agenda pembahasan Laporan Kelima IPCC. ‘Penekanan isu atau problema monsoon sudah disepakati masuk dalam Laporan IPCC kelima. Nanti kita bahas lebih lanjut dalam pertemuan IPCC berikutnya,’ Ketua Delegasi Republik Indonesia yang disampaikan oleh Dr. Advin Aldrian dalam acara penutupan di Nusa Dua, Bali, Kamis (29/10) siang.

Edvin menjelaskan bahwa beberapa hal yang sudah kita agendakan di pembukaan Sidang ke-31 IPCC ini sudah bisa diterima. Namun persoalan laut ini yang masih harus dibahas lebih lanjut. ‘Karena dukungan riset yang berkaitan dengan peran laut dalam perubahan iklim juga belum begitu banyak,’ jelas Edvin yang juga Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

Bagi Edvin, hal itu merupakan tantangan bagi ilmuwan Indonesia untuk membuat dan menyusun riset agar dipublikasikan di jurnal ternama agar bisa masuk ke dalam Laporan IPCC kelima. ‘Standar yang disampaikan IPCC sangat tinggi. Mereka hanya mengadopsi hasil riset yang dimuat dalam jurnal ternama. Untuk laporan ke empat lalu Indonesia bisa memasukkan 16 hasil penelitian. Untuk laporan ke lima ini kita berharap lebih banyak lagi hasil penelitian ilmuwan Indonesia yang masuk,’ jelas Edvin.

Oleh karena itu, pihaknya terus mendorong dan mengembangkan kerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi serta berbagai perguruan tinggi di Indonesia guna mengembangkan kajian dan riset yang berkaitan dengan tema perubahan iklim, ‘Khususnya soal monsoon dan kontribusi penyerapan karbon oleh laut,’ tambah Edvin.

Apresiasi IPCC

Sementara itu Ketua Panel Internasional Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim, Dr. Rajendra Pachauri menyampaikan terima kasih kepada para delegasi dan pemerintah Indonesia yang telah menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan Sidang ke-31 IPCC. ‘Selama sidang kita semua mengalami kemajuan positif dan menggembirakan dalam pembahasan outline AR-5,’ kata Pachauri.

Delegasi Indonesia juga menghargai perhatian dan komitmen delegasi seluruh negara yang hadir. ‘Kerja semua pihak selama empat hari ini tak diragukan lagi dapat memberikan dasar penting dan strategi untuk penyusunan AR-5,’ sebagaimana disampaikan oleh Edvin.

Hasil pembahasan kerangka Laporan IPCC kelima ini akan dibahas kembali di Busan, Korea tahun depan. ‘Namun beberapa pokok bahasan dalam sidang ini juga bisa diagendakan untuk dibahas dalam Pertemuan Perubahan Iklim UNFCCC dan COP-15 di Copenhagen, akhir tahun ini. ***

Oleh: bmkgkotabaru | 25 September 2009

CLOUD CHARACTERISTICS

AWAN

Oleh: bmkgkotabaru | 25 September 2009

REAL CLOUD

awan2

Kategori